http://repository.ut.ac.id/2609/1/fkip201047.pdf
https://www.gosumbar.com/artikel/opini/2019/03/08/beginilah-ulasan-perbedaan-dan-persamaan-antara-un-pisa-dan-timss
Indonesia mencapai hasil yang rendah pada tingkat kemampuan membaca; skor 371, skor matematika dan SAINS di bawah rata-rata, yaitu 379 dan 396 di tahun 2018. Hal ini ditunjukkan pada PISA (Programme for International Student Assessment). Sedangkan untuk TIMSS (Trends in International Mathematics and Science Study) pada tahun 2015 menunjukkan Indonesia berada di peringkat 44 dari 49 negara dengan rata-rata skor 397, yaitu IPA dengan peringkat 4 dan matematika di peringkat 6 dari bawah. Sementara skor internasional adalah 500.
Sebagai bahan studi banding dengan hasil survei internasional di atas, maka Indonesia bekerja sama dengan PUSPENDIK (Pusat Penilaian Pendidikan) pun melakukan survei nasional AKSI (Assesmen Kompetensi Siswa Indonesia) dengan target sasaran siswa kelas 8 di provinsi DKI dan DIY dengan hasil yang senada dengan survei internasional PISA, TIMSS dan PIRLS. Hal ini lah yang menjadi indikator mikro mengenai permasalahan yang terjadi pada kemampuan anak Indonesia.
Dengan deskripsi hasil survei nasional dan internasional di atas dapat disimpulkan bahwa mutu pendidikan di Indonesia tergolong rendah dan perlu dilakukan perbaikan dan pembenahan dalam rangka memperbaiki mutu pendidikan di Indonesia. Peningkatan kompetensi para guru adalah esensi yang paling penting dalam hal ini. Bukankah pendidikan adalah denyut nadi kehidupan? Masa pandemi tidak boleh menjadi hambatan untuk tetap berkreatifitas dan berinovasi. Kemampuan literasi teknologi menjadi tuntutan. Itu sebabnya pemerintah menggadang-gadangkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Pemberian media pembelajaran, bahan ajar mau pun strategi pembelajaran via jarak jauh mesti dilakukan. Para siswa pula harus kreatif, Guru lah memegang peranan penting dalam hal ini.
Dalam rangka peningkatan mutu pendidikan di Indonesia ini mesti didukung oleh berbagai pihak. Tidak hanya guru. Namun juga semua elemen masyarakat, termasuk orangtua. Jika tidak, hasil yang diharapkan tidak akan maksimal.
Ikatan Guru Indonesia (IGI) menjadi salah satu wadah untuk meningkatkan kompetensinya. Melalui Diklat Daring (DD), para guru diajak mengeksplor berbagai aplikasi dan platform pendidikan yang saat ini disajikan guna mendukung Pembelajaran Jarak Jauh. Terbukti sejak awal COVID-19 menyerang Indonesia sampai saat ini, Ikatan Guru Indonesia telah melatih ribuan orang guru. Hal yang tidak dilakukan oleh Kementerian Pendidikan Kebudayaan Republik Indonesia sendiri. Bahkan secara mandiri organisasi profesi yang telah terbentuk sejak tahun 2009 ini tetap bergerak. Ratusan orang pelatih untuk lebih dari enam puluh empat kanal diturunkan di setiap penjuru negeri. Tidak hanya sertifikat 34 JP yang didapatkan, ilmu, wawasan dan karakter terintegrasi di dalamnya.
Sagusablog (Satu Guru Satu Blog) adalah salah satu kanal IGI yang disediakan oleh Pengurus Pusat. Para guru dibimbing tentang bagaimana membuat sampai dengan mengelola blog sendiri. Dengan harapan pada hasil akhir, mereka mampu membiasakan diri untuk berkarya lewat tulisan megenai berbagai konten pendidikan. Dari bahan ajar, media pembelajaran sampai dengan strategi dan teknik mengajar.










0 comments:
Post a Comment